HARI BUMI MAHKLUK LAUTAN


Pada peringatan hari bumi 22 April 2021 kali ini, raja laut membuat perayaan besar-besaran di alun-alun istananya. Seluruh mahluk laut diundang.

Sambil menunggu semua mahluk laut berkumpul, acara di isi dengan perjamuan makan-makan. Para ibu-ibu komplek makhluk laut, sedang asyik menikmati jamuan sambil berbincang-bincang.

“Kata teman saya, acara ini berhubungan dengan berita yang lagi viral kemarin itu loh bu!” kata salah satu ibu.

“Ohh, si artis komedian itu atau soal kasus korupsi pengacara dan penyidik?”

“Iiih, bukan itu loh bu. Tapi, soal kematian mendadak jutaan ikan di Sumut!”

“Wah, saya mulai curiga deh! Jangan-jangan mereka terkena pandemi virus corona. Raja laut sepertinya harus cepat mengusahakan vaksin dalam jumlah banyak.”

“Biasanya sih, kematian massal ikan karena ada limbah, atau ketumpahan minyak. Yah, kurang lebih akibat dampak operasi perusahaan. Apalagi sekarang para manusia sedang gencar-gencarnya menarik investor ke wilayah kita”

"Jangan keras-keras bu, nanti tergigit regulasi loh."

“Sudah yah bu, pidato raja laut kayaknya mau dimulai, itu pembawara acara telah kembali kepanggung.”

Seluruh mahluk laut berbaris membuat kerumunan besar di depan panggung alun-alun istana. Dibelakang tirai panggung, raja laut sambil memperbaiki setelan jubahnya bersiap memasuki mimbar kehormatan.

"Baiklah para mahkluk laut sekalian, acara selanjutnya pidato raja laut. Kepada raja laut dipersilahkan."

Perlahan raja laut berjalan dengan gagahnya memasuki mimbar kehormatan. “Kita telah lama membiarkan alam kita di rusak, hingga rumah kita akhirnya dihancurkan.” Kata raja laut, saat memulai pidatonya.

“Makanan kita mengandung racun, air yang kita hirup mengandung racun, penyakit yang berujung kematian telah lama meneror kita. Setiap tahun racun semakin bertambah, anak-anak kita semakin banyak yang mati karena memakan makanan beracun. Wahai rakyat lautan, apa kalian tetap berdiam diri? Apa kalian masih sanggup bersabar dieksploitasi? Telah lama kita bersabar! Saudara kita dibunuh! Anak kita dibunuh! Orang tua kita dibunuh! Dengan apa? Ya dengan racun jenis limbah, sampah, zat kimia, bahkan hasil ekploitasi pertambangan. Untuk itu, Siapkan senjata kalian! Perteguh jiwa kalian! Kita akan bertempur! Kita akan melawan! demi hak hidup kita, saudara kita, orang tua kita, dan anak-anak kita! Hidup rakyat lautan.” Tutup Raja laut sambil mengacungkan senjata perangnya.

“Hidup rakyat lautan.” Seluruh mahkluk lautan berseru-seru, mereka terbakar semangat perlawanan.

Lalu, dari arah belakang barisan, salah satu mahkluk maju kedepan menyibak kerumunan. Mahluk itu hendak menghadap raja lautan.

“Salam hormat wahai junjungan hamba, izinkan hamba memperkenalkan diri.” Ucap mahluk itu, menunduk khidmat.

“Silahkan, waktu dan tempat kupersembahkan padamu” kata Raja laut.

“Nama hamba Mina. Menyimak pernyataan paduka tadi, hamba ingin meminta izin untuk memberi peringatan tegas pada para manusia. Mohon paduka mengabulkan permintaan hamba, karena saat ini mereka tengah melintas diwilayah kita.”

“Kukabulkan permintaanmu wahai Mina. Berilah mereka peringatan terlebih dahulu sebagaimana etika berperang.”

"Terima-kasih yang mulia, hamba mohon pamit dan restu paduka.” Mina kemudian melesat dengan cepat.

Sampailah mina ditempat yang dituju, sesosok mahluk berwarna hitam mengkilap buatan manusia di punggungnya bertuliskan KRI Nanggala 402 tengah mengapung bebas diatas sana. Tidak lama kemudian mahluk itu mulai menyelam, kedalam laut hingga berada tepat dijangkauan Mina. Hanya sekali gerak, Mina telah melumpuhkan mahkluk itu.

Mina pun kembali ke istana untuk melapor pada raja laut, tentang tugasnya yang telah ia selesaikan.

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama

Post Ads 1

Post Ads 2

Advertising Space